Sabtu, 26 April 2014

Adikku (Cerpen)


Adikku


                     Aku melihatnya lagi, Li. Aku melihat lagi anak lelaki itu, Li. Di dekat trotoar jalan raya, sesaat sebelum kita pulang dari sekolah. memegang sebuah botol bekas dengan banyak kerikil didalamnya. Dia tidak bisu seperti yang kau ceritakan, Li. Aku melihatnya bernyanyi. Aku melihatnya melepas topi yang dipakainya, dan menjadikannya tempat menaruh uang, Li. Suaranya merdu, Li. Aku dapat mendengarnya. Ia juga punya teman, Li. ia tidak sendiri, seperti yang kau ceritakan. Saat aku berbalik menengok ibu guru, di sudah tidak ada lagi, Li. Dia tidak ada lagi, di dekat trotoar jalan raya itu, Li. Aku ingin menghampirinya. Jika kau tahu rumahnya, tolong antarkan aku kesana, Li.


Apa kau ingat, Nit? Aku pernah bercerita tentang seorang anak lelaki bisu memegang botol bekas berisi kerikil ditangannya, Nit? Jika kau tidak ingat lagi, akan ku ceritakan kembali kisahnya.
Ada seorang anak lelaki bertopi, memegang botol bekas berisi kerikil ditangannya, ia selalu ada di trotoar dekat jalan raya, Nit. Ia bisu, ia tak punya teman, Nit. Suatu saat ada seorang anak lelaki seumuran mengajaknya bermain, tapi ia menghilang, Nit. Orang-orang percaya bahwa dia bisa menghilang. Orang-orang menjauhinya, karena ia dipercayai memiliki sihir hitam.
 Ini bukan cerita dongeng pengantar tidur, atau cerita karanganku, Nit. Anak lelaki itu memang benar ada. Aku ingin kau menjauhinya, Nit. Saat pengujung senja datang, saat semua orang bergembira ria bersama keluarga mereka. Ia menghilang tanpa jejak. Lalu siangnya hadir kembali di trotoar dekat jalan raya itu, Nit. Ia terlihat manis dengan setelan baju Jas yang dipakainya setiap hari dengan warna yang berbeda, Nit. Tiap tanggal 10 Juli, Nit. Dia akan menghilang seharian penuh. Disaat Pagi menyongsong, ia akan berada di depan sebuah rumah megah di sebuah kompleks perumahan, Nit. Menunggu seorang perempuan datang dan mengucapkan ‘Selamat Datang’ Padanya. Setelah sang perempuan mengucapkan ‘Selamat Datang’, ia akan kembali pergi, Nit. Pergi setelah meninggalkan bunga di tangan sang perempuan.
Aku ceritakan ini kembali, karena anak lelaki itu memang anak lelaki yang sering kau lihat itu, Nit. Sebuah rumah megah di kompleks rumah itu juga rumahmu, Nit. Dan sang perempuan maksudku itu, adalah dirimu, Nit.


Setelah pulang sekolah, Li. Aku melihatnya, Di Kebun bunga dekat kompleks rumah ku. Aku ingin berbalik, tapi dia berbicara pada ku, Li. Aku dapat membuktikannya padamu, Dia tidak bisu, Li. Dia berbicara padaku. Aku mendengarnya, Li. Aku mendengarnya, menyuruh ku duduk disampingnya. Aku berjalan ke arahnya, Li. Ia tersenyum manis, padaku. Senyumnya, mengingatkanku kepada seseorang, Li. Seseorang yang berharga, namun telah terenggut dari ku, Li. Ternyata, kami punya banyak kesamaan, Li. Kami sama-sama menyukai Nasi goreng, sama-sama tidak suka kerajinan dan seni, dan sama-sama pernah kehilangan orang yang kami sayang, Li.
Besok harinya, aku kembali menemuinya di kebun bunga dekat kompleks rumahku, Li. Dia sedang memainkan botol bekasnya yang di isinya dengan kerikil itu, Li. Dia bersenandung, Li. Menyanyikan lagu yang aku ketahui berjudul ‘Kapan-Kapan’, Li. Saat ia menyadari kehadiran seseorang, dia menengok ke arahku, lalu berlari memelukku. Aku datang kesana dengan membawa 2 bungkus nasi goreng, Li. Aku dan dia sudah berjanji akan makan nasi goreng bersama. Aku senang disaat ia menyebutku kakak, Li.


Kakak, kau pasti sudah tahu, tentang diriku dengan berita yang telah beredar. Lebih baik kau tak perlu lagi menemuiku di kebun bunga di dekat kompleks rumahmu itu, hanya untuk makan nasi goreng dan bercerita bersama. Kakak, kau bisa makan nasi goreng dan bercerita serta bercanda ria dengan sahabatmu. Aku tidak ingin teman-teman mu menjauhimu, hanya karena mereka tahu kau berteman dengan ku. Bersama teman-temanmu pasti lebih menyenangkan daripada denganku yang hanya sendiri ini. Aku sudah terbiasa dengan kesepian ini, kakak. Gunjingan orang-orang terhadapku membuatku kebal dan hanya menutup mulutku saja. Aku tidak ingin kakak dijauhi karena aku.
Kakak, pergilah dan jangan temui aku lagi. Aku tidak membencimu. Tapi, percayalah. Suatu saat, aku akan berada didepan sebuah rumah megah di sebuah kompleks tepat pada tanggal 11 Juli, kakak. Aku akan berada disana, kau masih bisa menemuiku. Percayalah, kau tidak akan kehilanganku. Karena aku selalu berada di hatimu. Aku tidak akan pernah jauh darimu. karena, kemanapun kau akan pergi, dimanapun kau berada, dan kapanpun kau membutuhkan ku, aku selalu ada bersamamu. Ingat, kakak. Aku selalu ada dan selalu bersamamu, Di Hatimu. Aku akan menemuimu lagi, asal kau berjanji tidak akan membenciku. Aku akan berjanji, aku akan menemui suatu saat nanti. Aku berjanji, kakak.


Aku tidak melihatnya, Li. Aku tidak melihatnya duduk di bangku kebun bunga dekat kompleks rumahku itu, Li. memang kemarin, dia melarangku datang untuk menemuinya. Dia berucap bahwa dia tidak membenciku, tapi dia menjauhiku, dan aku tak tahu alasan kenapa dia menjauhi ku, Li. Dia juga berucap padaku, bahwa dia akan menemuiku suatu saat nanti. Dia memang tidak ada, Li. Tapi, aku percaya bahwa dia selalu bersamaku, di hatiku.
    Aku merindukannya, Li. Aku rindu padanya. Aku rindu anak lelaki itu, Li. Aku rindu dia. Dia berjanji padaku, bahwa dia akan menemuiku lagi, Li. Sudah 5 tahun aku tak pernah bertemu dengannya lagi, Li. Besok tanggal 11 Juli, Aku berharap di hari ulang tahunku yang ke- 13 besok, dia akan datang menemuiku, dengan sebucket bunga di tangannya.


Kau merindukannya, Nit? Kenapa kau harus rindu padanya? Dia bahkan tak pernah kau jumpai lagi selama 5 tahun ini, Nit. Aku iri padanya. Kau selalu merindukannya, tapi tak pernah ku dengar kalimat ‘Aku merindukanmu’ darimu untukku, Nit. Mungkin aku bukan siapa-siapa antara kau dengannya. Tapi, jujur saja, aku juga ingin mendengar kau mengucapkan kata ‘Rindu’ untukku.
   Besok hari ulang tahunmu, kau selalu berharap dia datang dan membawa sebucket bunga untukmu. Tapi, aku tak pernah mendengar, kau meminta bahkan berharap  sesuatu dariku sebagai kado ulang tahunmu. Aku merasa menjadi orang yang tak dianggap olehmu, Nit. Mungkin, inilah saatnya kau mengetahui hal sebenarnya. Anak lelaki yang dulu ku ceritakan, pernah kau temui, dan sekarang kau rindukan itu adalah Adikmu, Nit. Adikmu yang dipercaya telah hilang olehmu, itu dirinya. Adikmu yang terlempar ke panti asuhan oleh kedua orang tua mu, pada saat ia berumur 3 tahun. Kau pasti sangat merindukan adikmu kan, Nit? Aku doakan, semoga besok dia hadir di hari ulang tahunmu, Nit.

    Kau sahabatku, Li. Aku tidak mengucapkan rindu padamu, karena kau selalu ada disampingku. Aku tidak meminta dan berharap apapun darimu sebagai kado ulang tahunku, karena cukup kau ingat hari ulang tahunku dan hadir pada saat itu, aku sudah merasa bahwa itu adalah kado terindah darimu untukku. Terima kasih, karena kau mau memberitahukan hal sebenarnya, padaku. Ku anggap itu adalah kado yang kau berikan untukku.
   Aku memang merindukan adikku. Tapi, ingatlah aku akan kesepian jika tak ada dirimu yang selalu menemaniku kemana pun aku pergi. Percayalah, Li. Sekali sahabat, tetap sahabat dan tak akan terpisah selama-lamanya. Ingat ya, Li. Datang dan hadirlah di hari ulang tahun ku  besok. Aku berharap.


Kakak, aku akan penuhi janji ku 5 tahun lalu hari ini. Tepat pada hari ulang tahunmu yang ke- 13 tahun. Aku akan berada di depan sebuah rumah megah di sebuah kompleks perumahan dekat kebun bunga itu kakak. Aku menunggumu keluar dan mengucapkan ‘Selamat Datang’ padaku, dan ku beri sebucket bunga untukmu. Tapi, aku tidak akan pergi seperti yang sebelumnya. Aku akan menunggumu menyuruhku masuk ke dalam istana megahmu itu, kakak.
Kakak, aku juga ingin bertemu dengan sahabat perempuanmu yang pernah kau ceritakan. Aku penasaran bagaimana orangnya. Pasti baik, ramah dan cantik sepertimu kan? Siapa namanya? Lili kalau tidak salah, nama yang cantik dan ku harap orangnya secantik namanya. Aku berharap begitu. Malam nanti, saat pesta ulang tahunmu digelar, aku akan datang, dengan setelan jas yang biasa aku pakai, yang berwarna biru, kakak. Seperti disaat kita terakhir bertemu. Aku akan datang. Tapi, dengan syarat, kau yang membukakan pagar untukku. Aku mohon.


Nit, Aku melihat adikmu. Aku melihatnya, didepan pagar rumahmu dengan setelan jas biru yang dipakainya, dan sebucket bunga ditangannya. Dia terlihat tampan. Berbeda saat 5 tahun lalu, saat ia masih suka berada di trotoar dekat jalan raya itu, Nit. Aku menghampirinya dan mengajaknya berbicara. Dia menoleh dan tersenyum padaku. Aku mulaitak percaya padamu, bahwa dia tidak bisu. Tapi, sesaat setelahnya, ia berbicara padaku. Ia berbicara padaku, Nit. Ia bertanya siapa namaku, dan ku jawab sesuai namaku, Lili.
Ia berucap padaku, bahwa kau pernah bercerita tentangku padanya. Ia menyenangkan, Nit. Dia lembut, bukan kemayu. Aku menyukainya, Nit. Lalu, aku mengajaknya masuk kedalam rumahmu. Dia berucap, ia tidak akan masuk sebelum kau yang membukakan pagar untuknya. Lalu, aku mengirim pesan untukmu, menyuruhmu membukakan pagar untukku. Kau datang, aku memelukmu dan mengucapkan selamat ulang tahun padamu. Lalu, kau menyadari kehadiran seseorang, kau langsung memeluk orang itu. Orang yang selama 5 tahun ini kau tunggu, dan akhirnya datang menemuimu. Aku gembira saat adikmu, menyebutku menyenangkan padamu. Akan ku balas, bahwa ia juga menyenangkan, tapi nanti. Tidak disaat aku melihat kalian saling melepas rindu didada masing-masing.


Aku tahu ia akan datang. Anak lelaki itu akan datang menemui ku. Aku tahu dia tidak meninggalkanku. Aku tahu dia tidak akan membenciku. Aku tahu di masih mengingat janji nya. Aku tahu dia masih menyayangiku. Kenapa aku tahu? Karena, dia adikku. 



Me (Fantasi)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar