Adikku
Aku melihatnya lagi, Li.
Aku melihat lagi anak lelaki itu, Li. Di dekat trotoar jalan raya, sesaat
sebelum kita pulang dari sekolah. memegang sebuah botol bekas dengan banyak
kerikil didalamnya. Dia tidak bisu seperti yang kau ceritakan, Li. Aku
melihatnya bernyanyi. Aku melihatnya melepas topi yang dipakainya, dan menjadikannya
tempat menaruh uang, Li. Suaranya merdu, Li. Aku dapat mendengarnya. Ia juga
punya teman, Li. ia tidak sendiri, seperti yang kau ceritakan. Saat aku
berbalik menengok ibu guru, di sudah tidak ada lagi, Li. Dia tidak ada lagi, di
dekat trotoar jalan raya itu, Li. Aku ingin menghampirinya. Jika kau tahu
rumahnya, tolong antarkan aku kesana, Li.
Apa kau
ingat, Nit? Aku pernah bercerita tentang seorang anak lelaki bisu memegang
botol bekas berisi kerikil ditangannya, Nit? Jika kau tidak ingat lagi, akan ku
ceritakan kembali kisahnya.
Ada seorang
anak lelaki bertopi, memegang botol bekas berisi kerikil ditangannya, ia selalu
ada di trotoar dekat jalan raya, Nit. Ia bisu, ia tak punya teman, Nit. Suatu
saat ada seorang anak lelaki seumuran mengajaknya bermain, tapi ia menghilang,
Nit. Orang-orang percaya bahwa dia bisa menghilang. Orang-orang menjauhinya,
karena ia dipercayai memiliki sihir hitam.
Ini bukan cerita dongeng pengantar tidur, atau
cerita karanganku, Nit. Anak lelaki itu memang benar ada. Aku ingin kau
menjauhinya, Nit. Saat pengujung senja datang, saat semua orang bergembira ria
bersama keluarga mereka. Ia menghilang tanpa jejak. Lalu siangnya hadir kembali
di trotoar dekat jalan raya itu, Nit. Ia terlihat manis dengan setelan baju Jas
yang dipakainya setiap hari dengan warna yang berbeda, Nit. Tiap tanggal 10
Juli, Nit. Dia akan menghilang seharian penuh. Disaat Pagi menyongsong, ia akan
berada di depan sebuah rumah megah di sebuah kompleks perumahan, Nit. Menunggu
seorang perempuan datang dan mengucapkan ‘Selamat Datang’ Padanya. Setelah sang
perempuan mengucapkan ‘Selamat Datang’, ia akan kembali pergi, Nit. Pergi
setelah meninggalkan bunga di tangan sang perempuan.
Aku
ceritakan ini kembali, karena anak lelaki itu memang anak lelaki yang sering
kau lihat itu, Nit. Sebuah rumah megah di kompleks rumah itu juga rumahmu, Nit.
Dan sang perempuan maksudku itu, adalah dirimu, Nit.
Setelah
pulang sekolah, Li. Aku melihatnya, Di Kebun bunga dekat kompleks rumah ku. Aku
ingin berbalik, tapi dia berbicara pada ku, Li. Aku dapat membuktikannya
padamu, Dia tidak bisu, Li. Dia berbicara padaku. Aku mendengarnya, Li. Aku
mendengarnya, menyuruh ku duduk disampingnya. Aku berjalan ke arahnya, Li. Ia
tersenyum manis, padaku. Senyumnya, mengingatkanku kepada seseorang, Li.
Seseorang yang berharga, namun telah terenggut dari ku, Li. Ternyata, kami
punya banyak kesamaan, Li. Kami sama-sama menyukai Nasi goreng, sama-sama tidak
suka kerajinan dan seni, dan sama-sama pernah kehilangan orang yang kami
sayang, Li.
Besok
harinya, aku kembali menemuinya di kebun bunga dekat kompleks rumahku, Li. Dia
sedang memainkan botol bekasnya yang di isinya dengan kerikil itu, Li. Dia
bersenandung, Li. Menyanyikan lagu yang aku ketahui berjudul ‘Kapan-Kapan’, Li.
Saat ia menyadari kehadiran seseorang, dia menengok ke arahku, lalu berlari
memelukku. Aku datang kesana dengan membawa 2 bungkus nasi goreng, Li. Aku dan
dia sudah berjanji akan makan nasi goreng bersama. Aku senang disaat ia
menyebutku kakak, Li.
Kakak, kau
pasti sudah tahu, tentang diriku dengan berita yang telah beredar. Lebih baik
kau tak perlu lagi menemuiku di kebun bunga di dekat kompleks rumahmu itu,
hanya untuk makan nasi goreng dan bercerita bersama. Kakak, kau bisa makan nasi
goreng dan bercerita serta bercanda ria dengan sahabatmu. Aku tidak ingin
teman-teman mu menjauhimu, hanya karena mereka tahu kau berteman dengan ku.
Bersama teman-temanmu pasti lebih menyenangkan daripada denganku yang hanya
sendiri ini. Aku sudah terbiasa dengan kesepian ini, kakak. Gunjingan
orang-orang terhadapku membuatku kebal dan hanya menutup mulutku saja. Aku
tidak ingin kakak dijauhi karena aku.
Kakak,
pergilah dan jangan temui aku lagi. Aku tidak membencimu. Tapi, percayalah.
Suatu saat, aku akan berada didepan sebuah rumah megah di sebuah kompleks tepat
pada tanggal 11 Juli, kakak. Aku akan berada disana, kau masih bisa menemuiku.
Percayalah, kau tidak akan kehilanganku. Karena aku selalu berada di hatimu.
Aku tidak akan pernah jauh darimu. karena, kemanapun kau akan pergi, dimanapun
kau berada, dan kapanpun kau membutuhkan ku, aku selalu ada bersamamu. Ingat,
kakak. Aku selalu ada dan selalu bersamamu, Di Hatimu. Aku akan menemuimu lagi,
asal kau berjanji tidak akan membenciku. Aku akan berjanji, aku akan menemui
suatu saat nanti. Aku berjanji, kakak.
Aku tidak
melihatnya, Li. Aku tidak melihatnya duduk di bangku kebun bunga dekat kompleks
rumahku itu, Li. memang kemarin, dia melarangku datang untuk menemuinya. Dia
berucap bahwa dia tidak membenciku, tapi dia menjauhiku, dan aku tak tahu
alasan kenapa dia menjauhi ku, Li. Dia juga berucap padaku, bahwa dia akan
menemuiku suatu saat nanti. Dia memang tidak ada, Li. Tapi, aku percaya bahwa
dia selalu bersamaku, di hatiku.
Aku merindukannya, Li. Aku rindu padanya.
Aku rindu anak lelaki itu, Li. Aku rindu dia. Dia berjanji padaku, bahwa dia
akan menemuiku lagi, Li. Sudah 5 tahun aku tak pernah bertemu dengannya lagi,
Li. Besok tanggal 11 Juli, Aku berharap di hari ulang tahunku yang ke- 13 besok,
dia akan datang menemuiku, dengan sebucket bunga di tangannya.
Kau
merindukannya, Nit? Kenapa kau harus rindu padanya? Dia bahkan tak pernah kau
jumpai lagi selama 5 tahun ini, Nit. Aku iri padanya. Kau selalu merindukannya,
tapi tak pernah ku dengar kalimat ‘Aku merindukanmu’ darimu untukku, Nit.
Mungkin aku bukan siapa-siapa antara kau dengannya. Tapi, jujur saja, aku juga
ingin mendengar kau mengucapkan kata ‘Rindu’ untukku.
Besok hari ulang tahunmu, kau selalu
berharap dia datang dan membawa sebucket bunga untukmu. Tapi, aku tak pernah
mendengar, kau meminta bahkan berharap
sesuatu dariku sebagai kado ulang tahunmu. Aku merasa menjadi orang yang
tak dianggap olehmu, Nit. Mungkin, inilah saatnya kau mengetahui hal sebenarnya.
Anak lelaki yang dulu ku ceritakan, pernah kau temui, dan sekarang kau rindukan
itu adalah Adikmu, Nit. Adikmu yang dipercaya telah hilang olehmu, itu dirinya.
Adikmu yang terlempar ke panti asuhan oleh kedua orang tua mu, pada saat ia
berumur 3 tahun. Kau pasti sangat merindukan adikmu kan, Nit? Aku doakan,
semoga besok dia hadir di hari ulang tahunmu, Nit.
Kau sahabatku, Li. Aku tidak mengucapkan
rindu padamu, karena kau selalu ada disampingku. Aku tidak meminta dan berharap
apapun darimu sebagai kado ulang tahunku, karena cukup kau ingat hari ulang
tahunku dan hadir pada saat itu, aku sudah merasa bahwa itu adalah kado
terindah darimu untukku. Terima kasih, karena kau mau memberitahukan hal
sebenarnya, padaku. Ku anggap itu adalah kado yang kau berikan untukku.
Aku memang merindukan adikku. Tapi, ingatlah
aku akan kesepian jika tak ada dirimu yang selalu menemaniku kemana pun aku
pergi. Percayalah, Li. Sekali sahabat, tetap sahabat dan tak akan terpisah
selama-lamanya. Ingat ya, Li. Datang dan hadirlah di hari ulang tahun ku besok. Aku berharap.
Kakak, aku
akan penuhi janji ku 5 tahun lalu hari ini. Tepat pada hari ulang tahunmu yang
ke- 13 tahun. Aku akan berada di depan sebuah rumah megah di sebuah kompleks
perumahan dekat kebun bunga itu kakak. Aku menunggumu keluar dan mengucapkan
‘Selamat Datang’ padaku, dan ku beri sebucket bunga untukmu. Tapi, aku tidak
akan pergi seperti yang sebelumnya. Aku akan menunggumu menyuruhku masuk ke
dalam istana megahmu itu, kakak.
Kakak, aku
juga ingin bertemu dengan sahabat perempuanmu yang pernah kau ceritakan. Aku
penasaran bagaimana orangnya. Pasti baik, ramah dan cantik sepertimu kan? Siapa
namanya? Lili kalau tidak salah, nama yang cantik dan ku harap orangnya
secantik namanya. Aku berharap begitu. Malam nanti, saat pesta ulang tahunmu
digelar, aku akan datang, dengan setelan jas yang biasa aku pakai, yang
berwarna biru, kakak. Seperti disaat kita terakhir bertemu. Aku akan datang.
Tapi, dengan syarat, kau yang membukakan pagar untukku. Aku mohon.
Nit, Aku
melihat adikmu. Aku melihatnya, didepan pagar rumahmu dengan setelan jas biru
yang dipakainya, dan sebucket bunga ditangannya. Dia terlihat tampan. Berbeda
saat 5 tahun lalu, saat ia masih suka berada di trotoar dekat jalan raya itu,
Nit. Aku menghampirinya dan mengajaknya berbicara. Dia menoleh dan tersenyum
padaku. Aku mulaitak percaya padamu, bahwa dia tidak bisu. Tapi, sesaat
setelahnya, ia berbicara padaku. Ia berbicara padaku, Nit. Ia bertanya siapa
namaku, dan ku jawab sesuai namaku, Lili.
Ia berucap
padaku, bahwa kau pernah bercerita tentangku padanya. Ia menyenangkan, Nit. Dia
lembut, bukan kemayu. Aku menyukainya, Nit. Lalu, aku mengajaknya masuk kedalam
rumahmu. Dia berucap, ia tidak akan masuk sebelum kau yang membukakan pagar
untuknya. Lalu, aku mengirim pesan untukmu, menyuruhmu membukakan pagar
untukku. Kau datang, aku memelukmu dan mengucapkan selamat ulang tahun padamu.
Lalu, kau menyadari kehadiran seseorang, kau langsung memeluk orang itu. Orang
yang selama 5 tahun ini kau tunggu, dan akhirnya datang menemuimu. Aku gembira
saat adikmu, menyebutku menyenangkan padamu. Akan ku balas, bahwa ia juga
menyenangkan, tapi nanti. Tidak disaat aku melihat kalian saling melepas rindu
didada masing-masing.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar