Rabu, 17 September 2014

Persahabatan rusa dan kelinci (cerpen)


                                      

               Dahulu kala, hiduplah seekor rusa bernama lulu. Lulu selalu bersama dengan sahabat baiknya, seekor kelinci bernama hunnie. Lulu selalu senang ketika hunnie mengajaknya pergi ke tepi sungai bersama-sama, menyusuri hutan tempat tinggal mereka.
               Namun, pada suatu hari, sang kelinci tak pernah lagi mengajak si rusa kecil berjalan-jalan di tepi sungai. Sang kelinci pun tak terlihat batang hidungnya. Kelinci tak pernah menemui rusa lagi, sampai pada sebuah berita yang sangat mengejutkan si rusa kecil. Berita bahwa sang kelinci menghilang setelah masuk ke dalam sebuah goa di tepi hutan.
               Setelah mendengar berita tersebut, rusa berangkat dengan perbekalan seadanya, berusaha mencari si kelinci yang sedang menghilang. Hari demi hari telah dilewati oleh lulu, si rusa kecil. Namun, dalam pencariannya lulu tak mendapat petunjuk apapun. Sampai suatu ketika, lulu melihat kelinci disekap oleh para singa. Dengan tekad dan keberanian yang kuat lulu mendatangi para singa itu, dan menantang para singa. Lulu tahu ia tak sekuat singa, namun ia percaya bahwa dirinya lebih pandai dari pada singa-singa itu.
“ Hey, para raja rimba, aku menantangmu untuk bermain tebak-tebakan denganku. Jika aku menang maka kau lepaskan kelinci sahabatku. Namun, jika aku kalah, akan ku jadikan diriku sebagai santapanmu.” Tantang rusa percaya diri, sang kelinci menatap khawatir si rusa.
“ Lulu, kau tidak perlu melakukan hal itu. Aku tidak mau kehilangan sahabatku, sahabat terbaik yang aku miliki. Pergi tinggalkan aku, jangan hiraukan aku. Lulu pergilah.” Kelinci menentang rusa untuk menantang para singa buas itu. Raja para singa itu menyetujui tantangan rusa dengan angkuh.
“ Aku terima tantanganmu, wahai rusa kecil yang pemberani. Kita lihat seberapa hebatnya dirimu melawanku.” Setuju sang raja singa, lalu si rusa kecil bersiap di tempatnya, bersiap untuk memulai permainan.
“ Kau harus mampu menjawab 3 pertanyaan dariku. Jika tidak, kau dan sahabatmu itu akan menjadi santapanku.” Ujar sang raja singa, rusa menyetujui hal tersebut.
“ Aku tidak punya lengan, tidak punya tangan. Namun, aku memiliki dua siku, apakah aku?” Aju sang raja singa, lulu tahu jawaban itu, ia pernah mempelajarinya dulu.
“Sudut 90 derajat atau sudut siku-siku.” Ucap sang rusa mantap, raja singa menatap rusa meremehkan.
“ Ku pastikan kau tidak dapat menjawab pertanyaanku. Jika ada bangkai tikus dan bangkai ayam mana yang lebih dulu kita pegang?” Tanya sang raja singa, rusa kecil tersenyum simpul.
“ Hidung kita.” Jawabnya tenang, raja singa mulai gusar.
“ Jawablah pertanyaan terakhir dariku. Semua tingkahmu dapat ku tirukan dengan sama persis, siapakah aku?” Tanya sang raja singa lagi, berharap sang rusa tidak dapat menjawabnya.
“ Cermin.” Jawab sang rusa singkat, raja singa yang tak terima dikalahkan pun menyerang lulu, tanpa memperhatikan kalau kelinci yang ia sekap telah terbebas. Keadaan sangat kacau, apalagi setelah kelinci terlepas dari ikatannya.
               Menjauhi para singa lulu mengajak hunnie sang kelinci berlari, mereka berlari meninggalkan tempat para singa itu berada. Lalu, mereka menoleh ke belakang memastikan bahwa tak ada singa yang mengejar mereka. Mereka selamat, selamat dari kejaran para singa dan selamat karena tidak menjadi santapan sang raja singa. Kemudian, mereka kembali menyusuri hutan, kembali ke tempat dimana mereka tinggal. Ketika berada di depan rumah rusa, kelinci mengucapkan terima kasih.
“ Lulu, terima kasih. Kau memang sahabat terbaik yang aku miliki. Kau rela mengorbankan nyawamu demi menyelamatkanku. Maafkan aku karena telah merepotkanmu. sekali lagi ku ucapkan, terima kasih sahabatku.” Lulu tersenyum senang, dan memeluk hunnie.
“ Bukankah kita sahabat? Seandainya kita memang menjadi santapan para singa itu, aku rela, asalkan bersama sahabatku. Setidaknya kita pergi bukan sebagai musuh, namun sebagai sahabat. Bukankah kasih sayang itu memang ada? Dan persahabatan itu memang nyata? Aku bahagia karena bisa menyelamatkan sahabatku.” Balas sang rusa sambil tersenyum.
               Akhirnya, sejak kejadian itu, rusa kecil dan sang kelinci kembali melakukan aktivitas rutin mereka, menyusuri hutan di pinggir sungai. Sang kelinci berjanji pada rusa kecil bahwa ia tak akan pergi meninggalkan rusa kecil lagi. Mereka selalu bersama apapun yang terjadi. Bukankah semua terasa indah ketika kita bersama sahabat? Ya, sahabat terbaik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar